Masyarakat Tanpa Syarat, Cerdas Dalam Berdemokrasi

0 48

Oleh: Atho' Illah

Calon Kepala Desa Sumberwuluh

LUMAJANG(JATIM)KOMPAS86.COM

Di berbagai Daerah kesadaran dalam berdemokrasi akhir-akhir ini tampaknya semakin baik, Tidak terkecuali di Kabupaten tempat saya tinggal. Pesta demokrasi yang langsung menyentuh masyarakat biasanya adalah ketika ada pemilihan calon pemimpin, dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Misalnya pemilihan Presiden dan atau yang paling bawah adalah pemilihan Kepala Desa. Di Desa saya tampaknya masyarakat mulai berpikir cerdas dan maju. Dikatakan cerdas dan maju dikarenakan masyarakat di Desa saya ini semakin mencintai perdamaian dan persatuan.

Seharusnya memang demikian, jika demokrasi dipandang sebagai pilihan terbaik, hendaknya tidak membawa dampak buruk, yaitu terjadi saling menjatuhkan, rasa dendam, perpecahan, saling serang menyerang, konflik, dan sejenisnya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Munculnya perpecahan biasanya memang dari atau bahkan sebagai akibat dari perebutan kekuasaan, pengaruh, dan semacamnya itu.

Hidup berdemokrasi sebenarnya adalah agar terjadi keselamatan dan kedamaian bagi seluruh rakyat. Melalui demokrasi diharapkan agar tidak ada orang atau sekelompok orang yang merasa ditinggalkan, dan apalagi didiskriminasi atau diperlakukan secara tidak adil. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, di Desa saya jika ada pemilihan Kepala Desa, dua atau tiga bulan sebelum acara pemilihan, biasanya sudah ramai dengan hiruk pikuk dan berbagai macam aksi politik yang bisa menimbulkan konflik antar pendukung. Namun suasana itu berubah saat ini.

Masyarakat di Desa saya sepertinya mulai sadar akan makna demokrasi yang sebenarnya. Itu artinya masyarakat tersebut mulai berpikir cerdas dan maju. Orang yang berpikir cerdas dan maju biasanya memang selalu mencintai perdamaian. Cara memilih pemimpinnya pun tidak asal-asalan. Mereka akan cerdas memilih pemimpin untuk Desanya agar ada sebuah kemajuan. Masyarakat yang cerdas dan maju biasanya memang tidak ingin ada syarat tertentu dalam memilih pemimpinnya. Berbeda dengan halnya masyarakat yang masih berpikir tertinggal atau tidak maju. Mereka biasanya ingin memilih pemimpin apabila diberikan sesuatu, misalnya uang dan atau yang lainnya.

Masyarakat di Desa saya sepertinya sudah tidak demikian, yaitu tidak memberikan syarat tertentu untuk memilih pemimpin. Mereka berkeinginan memilih pemimpin yang benar-benar mampu membawa Desanya maju dan mandiri. Oleh karenanya, paradigma bahwa calon pemimpin harus kaya, tidak lagi tertanam dalam benak mereka. Orang miskin misalnya, jika ia dipandang mampu memimpin, jujur, dan dapat kiranya membawa Desa semakin maju dan bermartabat, maka Insyaa Allah ia juga akan dipilih oleh rakyat.

Meskipun tidak semuanya seperti itu, namun akhir-akhir ini masyarakat banyak yang mulai sadar. Masyarakat di Desa saya tampaknya sangat merindukan sosok pemimpin yang bisa mengayomi dan membawa perubahan serta kemajuan. Sebaliknya mereka sebenarnya tidak ingin dipimpin oleh orang yang sembarangan. Bahkan ada yang mengatakan, jika memang ada yang sengaja memberikan sesuatu atau uang agar dipilih, mereka justru akan mengambil uangnya saja dan tidak akan dipilih. Hiruk pikuk politik di Desa saya pun juga tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang ini sangat terasa sejuk dan damai. Konflik antar pendukung juga tidak seperti pemilihan sebelumnya. Artinya mereka mulai sadar akan demokrasi yang memang seharusnya dijalankan dengan sehat, aman dan tentram. Bukan sebaliknya, saling menyerang dan atau saling menjatuhkan.

Tatkala kita memang merindukan sosok pemimpin yang jujur, membawa perubahan dan kemajuan, seyogiyanya kita juga harus melatih kecerdasan diri kita dalam memilih sosok pemimpin. Kita harus benar-benar jeli, bahkan jika perlu dipertimbangkan dengan matang dan profesional. Kecerdasan memilih itu akan dimiliki oleh seseorang manakala orang tersebut bisa memilih dan memilah, bisa menilai dan menimbang, bisa memprediksi dan menganalisa tentang bagaimana agar desanya bisa maju dan tetap sesuai dengan perkembangan jaman. Mereka mampu berpikir dan menganalisa tentang bagaimana keadaan sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan. Artinya mereka mampu menganalisis kebutuhan anak-anak dan cucu-cucunya ke depan.

Jika kita memilih pemimpin hanya berdasarkan analisis yang kurang matang, misalnya hanya dengan mengukur banyaknya uang dan besarnya janji-janji yang belum tentu juga bisa ditepati, maka kita sebenarnya telah masuk pada lingkungan makelar kepemimpinan. Sebagaimana makelar bisnis, jika sudah dapat untung, lalu pergi dan menikmati keuntungannya sendiri, ia tidak peduli lagi bagaimana nasib penjual dan pembelinya. Sama halnya dalam memilih pemimpin, jika mereka memilih karena uang, bukan karena niat yang mulia dan ingin perubahan yang lebih baik serta maju terhadap desanya, maka sampai kapanpun kita akan sulit untuk membawa Desa kita menjadi maju dan apalagi mandiri. 

Di Desa saya, masyarakatnya sudah lumayan banyak yang mengerti, banyak yang cerdas dan mau berpikir maju. Kebanyakan dari mereka tidak ingin memilih pemimpin asal-asalan. Mereka ingin benar-benar selektif, dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa mereka akan memilih pemimpin dengan tanpa syarat demi rakyat agar Desanya segera menjadi maju dan bermartabat. Wallahu'lam. Senin (15/11/2021).

 

#athoillah #dakwahdanmotivasi #masyarakat

Publish : Andi

Category: Budaya, DaerahTags:
author
No Response

Leave a reply "Masyarakat Tanpa Syarat, Cerdas Dalam Berdemokrasi"